Jl. Imogiri Timur Km.11.5 Trimulyo Jetis Bantul Yogyakarta Telp. 085100472941, Fax. (0274) 4396906
Profesional, Bersahabat, Terjangkau
CARA PRAKTIS PAHAMI STANDAR AKREDITASI RS

28 Mar 2015, 09:51

CARA PRAKTIS PAHAMI STANDAR AKREDITASI RS

Oleh: Eko Suseno, S.Kep., Ns.

Apa yang akan anda lakukan jika anda “terpaksa” masuk tim akreditasi rumah sakit? Anda diminta bekerja ekstra, jauh dari zona nyaman anda. Tentunya akan memangkas banyak waktu luang anda dan tuntutan loyalitas yang luar biasa. Mau nggak mau, siap atau tidak, anda harus terlibat ketika anda bekerja di instansi rumah sakit. Karena proses akreditasi hukumnya wajib bagi setiap rumah sakit. Apakah anda akan mengatakan “maaf saya nggak bisa dan nggak mampu,” atau “maaf IQ saya nggak nyampe untuk mikir gituan.” Tentu akan lebih membantu jika ada sebuah cara praktis pahami standar akreditasi RS.

Satu hal yang mungkin perlu anda pertimbangkan baik-baik. Ketika anda diminta terlibat akreditasi maka anda sudah berada satu langkah untuk masa depan rumah sakit. Bayangkan jika semua karyawan enggan terlibat dalam proses akreditasi. Rumah sakit tidak terakreditasi, kemudian kesulitan dalam proses perpanjangan ijin operasional. Yang akibatnya gulung tikar dan anda kehilangan sumber penghasilan. Semoga tidak terjadi, ya.

Seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 56 Tahun 2014 tentang klasifikasi dan perijinan rumah sakit. Dalam bab VI pasal 76 ayat 2 disebutkan bahwa Registrasi dan akreditasi merupakan persyaratan untuk perpanjangan Izin Operasional dan perubahan kelas. Ayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya akreditasi hingga dapat berpengaruh pada perpanjangan ijin operasional suatu rumah sakit.

Lalu apa manfaatnya jika anda dan rekan kerja karyawan berkomitmen baik menjalankan proses akreditasi? Yang anda dan rumah sakit dapatkan adalah perbaikan system pelayanan. Kenapa bisa demikian? Karena standar akreditasi KARS versi 2012 atau JCI menitikberatkan pada standar proses  sehingga seluruh regulasi dituntut untuk di implementasikan. Untuk itu diperlukan dokumen regulasi yang dapat di implementasikan dan pelaksanaan implementasi regulasi yang dikawal terus menerus.

Kenyataan yang ada di rumah sakit menunjukkan bahwa dokumen regulasi sebenarnya sudah ada, namun belum terlihat bentuk implementasinya. Meskipun tidak sedikit pula pelayanan yang di jalankan di rumah sakit namun belum memiliki regulasi sebagai acuan yang sah. Dengan adanya proses akreditasi KARS versi 2012 ini perbaikan system pelayanan dapat diperoleh dengan mengetahui regulasi apa saja yang harus ada dan implementasi seperti apa yang diharapkan.

Dari pengalaman sharing dengan beberapa rumah sakit di Yogyakarta maupun dari luar Yogyakarta tentang akreditasi, ada beberapa hal yang mungkin perlu diklarifikasi. Sebagian besar menganggap bahwa di standar akreditasi KARS versi 2012 yang terpenting adalah IMPLEMENTASI sehingga terkesan menafikkan regulasi. Pendapat ini sebenarnya tidak salah, namun perlu disempurnakan bahwa REGULASI dan IMPLEMENTASI memiliki posisi yang sama penting dalam standar akreditasi KARS versi 2012. Karena setiap implementasi harus berdasarkan regulasi, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh dr. Sutoto, M.Kes. bahwa “penyiapan dokumen sebagai regulasi merupakan HAL POKOK dalam akreditasi rumah sakit, karena merupakan acuan dalam pelayanan rumah sakit.”

Namun yang jadi masalah adalah tidak semua SDM rumah sakit –dalam hal ini terutama manajer, dapat memahami standar akreditasi atau menyusun regulasi dengan baik. Yang dimaksud baik disini adalah regulasi yang sesuai dengan standar akreditasi sekaligus dapat diimplementasikan. Bukan hanya baik namun tidak dapat diimplementasikan, sehingga hanya menjadi macan kertas atau semacam kembang penghias rak dokumen rumah sakit belaka.

Ada banyak cara untuk memahami standar akreditasi rumah sakit Antara lain adalah membaca dan memahami buku standar akreditasi sebagai acuannya, mengikuti sosialisasi atau bimbingan akreditasi dari KARS, membentuk forum diskusi antar rumah sakit, dan study banding ke rumah sakit yang sudah terakreditasi KARS versi 2012.

Yang akan saya sampaikan dalam artikel ini adalah cara praktis yang pernah kami pelajari bersama selama proses menyiapkan dokumen akreditasi dan setelah mengikuti proses akreditasi. Hingga rumah sakit kami dinobatkan sebagai rumah sakit tipe D pertama di Indonesia yang terakreditasi KARS versi 2012. Alhamdulillah sampai saat ini komitmen kami masih kuat dan selalu dijaga untuk melakukan proses perbaikan terus menerus menyesuaikan layanan terhadap standar akreditasi KARS versi 2012.

Kunci suksesnya adalah penuhi semua ELEMEN PENILAIAN dalam STANDAR AKREDITASI, jika menargetkan untuk lulus paripurna. Setiap rumah sakit berhak menentukan target kelulusan, mengingat perbedaan kemampuan dalam memenuhi setiap elemen penilaian. Oleh karena itu diperlukan kemampuan dalam memahami setiap standar, sehingga harapannya setiap rumah sakit dapat mengidentifikasi di elemen mana saja bisa lulus. Dari identifikasi inilah target kelulusan bisa ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing rumah sakit. Hal ini akan dapat meminimalkan upaya yang sia-sia ketika mencoba memenuhi elemen penilaian yang sebenarnya memang tidak mampu dipenuhi.

Lalu cara praktisnya bagaimana? Tentunya sangat membosankan bagi manajer yang nggak suka baca tapi disuruh mempelajari buku standar akreditasi yang 237 halaman itu. Tentunya juga akan sangat sulit merubah kebiasaan orang-orang di pelayanan yang selama ini bekerja dan sudah menjadi rutinitas sehari-hari ketika ada regulasi baru.

Cara praktis ini hanya dapat berhasil dengan baik jika telah terjalin komitmen kuat dalam diri karyawan untuk terlibat dalam proses akreditasi. Jadi tugas pertama adalah bangun komitmen terlebih dahulu. Siapkan tim kerja, bekali motivasi, ilmu dan buku standar akreditasi. Baru kemudian terapkan cara praktis pahami standar akreditasi RS.

Cara praktis yang kami maksud adalah:

  1. Identifikasi standar dan jumlah elemen penilaian di setiap bab standar akreditasi.
  2. Baca gambaran umum setiap bab dalam standar akreditasi hingga mampu menyimpulkan ruang lingkupnya.
  3. Pahami maksud dan tujuan perstandar.
  4. Pahami setiap elemen penilaian.
  5. Identifikasi jenis regulasi dan bukti implementasi yang dibutuhkan dalam setiap elemen penilaian.

Jika setiap manajer menguasai cara praktis diatas, maka mereka bisa dikatakan berada pada jalur yang benar dalam memahami standar akreditasi. Meskipun berkali-kali mengikuti sosialisai dan bimbingan akreditasi, tapi jika mereka tidak melakukan cara praktis ini sampai kapanpun tidak akan paham standar akreditasi secara utuh. Karena cara praktis ini merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang koseptor dokumen akreditasi.

Jika anda masih ragu-ragu atau perlu bukti terkait efektifitas cara praktis ini, anda bisa study banding ke rumah sakit kami dan sharing tentang akreditasi. Sejak rumah sakit kami tersertifikasi akreditasi KARS versi 2012 dan menjadi rumah sakit tipe D pertama di Indonesia yang terakreditasi, sampai saat ini sudah ada rumah sakit yang pernah study banding dan sharing tentang akreditasi dengan rumah sakit kami. Baik yang datang ke rumah sakit kami maupun yang mendatangkan tim akreditasi rumah sakit kami untuk sharing.

Semoga informasi ini bermanfaat dan menjadi motivasi bersama untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Meski sebagian besar pasien di rumah sakit adalah pasien dengan jaminan kesehatan, bukan berarti kita sebagai pemberi pelayanan mengabaikan mutu dan keselamatan pasien. Mari bersama-sama wujudkan Indonesia sehat melalui upaya perbaikan layanan kesehatan.

Salam Indonesia sehat!!

info kamar kosong

  • 0

    Kelas VIP

    Rp. 350000,-/hari

  • 0

    Kelas 1

    Rp. 250000,-/hari

  • 0

    Kelas 2

    Rp. 100000,-/hari

  • 0

    Kelas 3

    Rp. 75000,-/hari

  • 0

    High Care Unit

    Rp. 250000,-/hari

  • 0

    Ruang Bayi

    Rp. 0,-/hari

Peta lokasi


View RS Nur Hidayah Bantul in a larger map
free web hit counter